my other rumination

the sound of silence

Posted in wander afar by ilmajesties on 2009/11/06

hmm…..

it’s silent alright…..

“what is???!” you asked?

my brain that is! darn!!

ah yes, i’m on those days – the so called – the breakdown of spirit.

All that is gold does not glitter,
Not all those who wander are lost;
The old that is strong does not wither,
Deep roots are not reached by the frost.
From the ashes a fire shall be woken,
A light from the shadows shall spring;
Renewed shall be blade that was broken,
The crownless again shall be king.
(J.R.R. Tolkien)

in the morning light

Posted in wander afar by ilmajesties on 2009/04/15

jam 6.52 sore,

pas adzan isya di daerah rumah saya, pas kebetulan lagunya Yanni – In The Morning Light mengalun, ulah winamp, hari ini sebenernya rencananya mau mengurangi porsi bersama si komputer, karena saya merasa harus mengerjakan tugas komik yang notabene manual, walhasil, sore ini baru nyalain komputer lagi walopun sebenernya si tugas komik juga belom dikerjain, baru nyari-nyari ide sambil sket sket kasar.

balik ke Yanni dan In The Morning Light-nya, saya jadi berpikir, apa sih yang saya rasakan kalo sudah terbangun kala pagi hari? hmm…. yang selalu saya ingat adalah perasaan ketika habis melakukan perjalanan dan baru keluar dari kereta pas pagi hari, kebetulan saya paling sering naek kereta. dan setiap pagi itu ketika saya berjalan keluar dari stasiun, selalu muncul semacam perasaan, entah gimana rasanya buat dideskripsikan, ya pokoknya mah … gitu lah!

kadang-kadang saya juga merasa aneh sendiri, bahwa saya berjalan di tempat yang sangat jauh dari yang seharusnya – tempat asal saya – tapi kok rasanya space sudah di-fold-kan sedemikian rupa di otak saya, sampe saya ga merasa jauh secara lokasi, saya cuman hidup di rumah yang berbeda, ketemu orang yang berbeda, dan jalan di jalanan yang berbeda, ketimbang merasa perbedaan antara jogja-jakarta-bandung, saya lebih seringnya menganggap ini sebagai lipatan dimensi, atau dunia paralel, jadi saya bukan sedang berada di belahan bumi yang lain, tapi berada di dunia yang lain. hmm…. sama kaya waktu lagi jalan dari indomaret, lewat jalan yang biasa dilewatin, emang jalan situ relatif sepi sih, lingkungan perumahan, dan di deket situ ada bapak pencukur rambut, nah di sore pas saya lewat itu, si bapak sambil mencukur rambut pelanggannya, dia mendengarkan musik orchestra, ya orchestra, yang ada biola, dll nya itu, klasik pula.. dalam hati saya “wow, si bapak seleranya okei juga” nah pas balik ngliat jalan setapak kok rasanya saya kehilangan ‘kesadaran’ saya lagi ada dimana, jogja-tapi rasanya bukan jogja-tapi bukan jakarta juga-apalagi bandung , sekilas itu bener-bener jadi berenti sesaat dan mikir, “saya lagi dimana sih ini?” … nah perasaannya tuh hampir sama dengan waktu baru turun dari kereta …

felt like little piece of me has scattered …
felt like i’m losing …
of what or who i know not …
it’s just that i miss ‘you’ in the morning light …
maybe it’s just some sillent nostalgia …

Blogged with the Flock Browser
Tagged with: ,

orang gila

Posted in wander afar by ilmajesties on 2008/10/18

orang-orang yang kalian bilang gila itu kan dibilang ‘gila’ karena sikap dan tingkah lakunya ga sesuai sama kesepakatan masyarakat, so what kalo mereka ga sesuai dengan ‘kekuasaan’? lantas itu membuat mereka gila? gimana kalo ternyata justru masyarakat yang ‘gila’ beneran, termasuk kita, dan mereka-mereka yang di tuduh gila justru orang ‘waras’ yang sesungguhnya. menurut gw orang yang benar-benar ‘gila’ adalah mereka mereka yang menghancurkan diri dan hidupnya sendiri dengan sengaja. dan gw paling kesel deh kalo ada yang bilang “kasian dia sakit jiwa”, ih apaan sih the term ‘kasian’ tuh kaya itu sesuatu yang menyedihkan dan mengganggu, kaya sakit jiwa itu sesuatu yang menyedihkan. menurut gw sakit jiwa kan cuma state dimana seseorang punya pilihan hidupnya sendiri, yang bilang mereka yang kalian sebut itu sakit jiwa ga sadar sama yang dilakukan siapa sih? emang nya siapa kalian buat men-judge kalo orang sakit jiwa itu menyedihkan, dan kaya kuman yang harus dibasmi. menurut gw satu-satunya jenis orang yang patut dikasihani itu adalah orang-orang yang mengasihani dirinya sendiri, kecuali kalo si yang dibilang sakit jiwa ini memang mengasihani dirinya sendiri, baru lah gw bakal kasian.

industri kreatif

Posted in wander afar by ilmajesties on 2008/07/03

ini adalah artikel eh bukan artikel ding, ya tulisan yang saya buat karena disuruh dosen… hmmm, saya ga ngerti bagus ato ngga, ayo berbagi pendapat

Istilah ‘Industri Kreatif’ sepertinya sedang menjadi perhatian bagi sebagian insan kreatif, nah kan, muncul dua kata kreatif dalam satu kalimat, sekarang bahkan jadi tiga. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya dimaksud dengan industri kreatif, selain tentu saja dengan melihat dari etimologi kata penyusunnya. Berdasarkan Microsoft® Encarta® Reference Library 2005,

Industry :

  1. large-scale production: organized economic activity connected with the production, manufacture, or construction of a particular product or range of products
  2. widespread activity: an activity that many people are involved in, especially one that has become excessively commercialized or standardized.

Dan karena kreatif yang digunakan dalam istilah ini termasuk jenis kata sifat, dalam bahasa inggris menjadi creativity, dan berdasarkan Microsoft® Encarta® Reference Library 2005,

Creativity :

  1. being creative: the quality of being creative
  2. imaginative ability: the ability to use the imagination to develop new and original ideas or things, especially in an artistic context

Jadi yang dapat disimpulkan dari etimologinya, Industri Kreatif menjadi memiliki arti sebagai berikut: kegiatan ekonomi suatu produk tertentu yang melibatkan proses kreatif dalam pembuatan dan pengembangannya. Tentunya itu hanyalah kesimpulan premature yang saya dapat dari seenaknya saja mengartikan kata. Tetapi ketika saya mencari tau tentang apa itu industry kreatif saya malah jadi dibingungkan oleh satu lagi istilah, ekonomi kreatif. Lalu apa bedanya ekonomi kreatif dan industri kreatif.? Banyak yang menganggap ekonomi kreatif sama dengan industri kreatif, tetapi ada penjelasan1) yang menyatakan Ekonomi kreatif adalah keseluruhan dari industri kreatif, yaitu seluruh industri yang tercakup dalam kelompok industri kreatif. Terlepas dari sama atau tidak nya ekonomi kreatif dan industri kreatif, istilah ekonomi kreatif masih relatif baru. Tidak mengherankan bila belum banyak orang yang memahaminya. John Howkins dalam The Creative Economy (2001) menemukan kehadiran ekonomi gelombang keempat ini setelah menyadari bahwa hak cipta Amerika Serikat (AS) pada 1996 mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar US$ 60,18 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Ini jauh melampaui ekspor AS lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Howkins mengusulkan 15 kategori industri yang termasuk dalam ekonomi kreatif, yaitu: periklanan, arsitektur, seni rupa, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset dan pengembangan, piranti lunak, mainan dan permainan, TV dan radio, serta permainan video.

Di Inggris sedikit berbeda. Pemerintah Inggris menggolongkan 13 sektor industri ke dalam kategori ekonomi kreatif, yang terdiri dari: periklanan, arsitektur, seni murni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, film dan video, hiburan interaktif dan permainan komputer, musik, seni pertunjukan, penerbitan, perangkat lunak dan animasi, serta TV dan radio.

Departemen Perdagangan RI mendefinisi industri kreatif berdasarkan UK DCMS Task force 1998, :


Creatives Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content”

Sehingga Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai berikut:
“Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut “. Pemerintah berhasil memetakan 14 sektor industri yang termasuk kategori kreatif, yaitu: periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antik; kerajinan; desain; fashion; video, film, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; TV dan radio; serta riset dan pengembangan.

Sebenarnya terlepas dari segala definisi yang dengan suksesnya saya kutip dari orang-orang lain, saya menganggap industri kreatif hanyalah sebagai label, seperti halnya judul dalam sebuah film atau kategori dalam produk makanan, industri kreatif ataupun ekonomi kreatif hanyalah suatu pengelompokan dari sesuatu yang memang sudah ada. Dan ketika berbicara hubungan antara industri dan DKV, saya serta merta menganggap bahwa DKV sendiri adalah produk industri, DKV adalah sebuah lembaga intelek industri, DKV muncul karena ada tuntutan dari Industri, seperti halnya Bauhaus atau gaya desain modern lain adalah produk tuntutan industri untuk memenuhi indutri yang berkembang akibat Revolusi Industri waktu itu, jadinya menurut saya DKV memang hadir semata-mata untuk memenuhi permintaan industri, dalam artian lembaga DKV adalah praktisi industri yang ingin ber-intelek dan ya jelas saja DKV adalah produk kapitalisme, Desainer Kapitalis Visual, sebuah perancangan visual untuk kapitalisme. Bahkan menurut saya pribadi, segala hal yang berhubungan dengan embel-embel industri adalah kapitalisasi. Jadi kalau ada orang yang berkata ‘anti kapitalisme’ dalam lingkungan DKV, dia hanya belom sadar kalau dia jelas-jelas sudah menjadi bagian dari kapitalisme. Lalu saya jadi bertanya, apakah gerangan produk DKV yang bukan merupakan ‘kaki tangan’ kapitalisme? Saya rasa, selama kita hanya menjadi ‘pekerja’, selamanya kita menjadi kaki tangan kapitalisme, sekalipun itu dalam sebuah industri kreatif – kreatifitas yang di industri kan – selama kita berkreasi dalam konteks ingin menjual, maka kita memang menganut merkantilisme. Dan semangat kapitalis memang semangat menumpuk kekayaan. Dan kita bukannya tidak perlu menolak industri, melainkan tidak dapat menolak industri. Praktisi DKV sepertinya memang hanya menjadikan pengetahuan sebagai komoditas, komoditas untuk menghasilkan suatu produk yang dapat menghasilkan uang, paling tidak itu yang saya temukan pada beberapa rekan saya yang menjadi praktisi DKV di kota-kota lain, mereka hanya tertarik akan sesuatu yang dapat ‘menghasilkan’, sesuatu yang dapat diolah menjadi suatu yang dapat dinilai. Bahkan fenomena seperti ini pun sudah muncul dalam lingkungan rekan-rekan saya di kampus. Satu lagi alasan kenapa saya bilang DKV memang berjiwa kapitalis, karena di beberapa perkuliahan yang diajarkan hanya stategi bagaimana caranya agar produk laku dijual di pasaran, nah bahkan dari dunia kampus saja sudah diajarkan menjadi seorang ahli strategi kapital, padahal seharusnya kampus menjadi sebuah ajang adu idealisme.

Nah jika saya disuruh memilih untuk membahas yang mana, saya memiliki kecenderungan untuk memilih sector industri layanan komputer dan piranti lunak yang memiliki pengertian kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak & piranti keras, serta desain portal; yang berarti desain web masuk di dalam nya. Tapi karena kemarin Pak Sumbo hanya memilih tujuh dari empat belas kategori yang ada – periklanan, desain grafis, video film fotografi, permainan interaktif, penerbitan & percetakan, dan riset & revisi – yang tidak memasukkan kategori sector industri yang saya ingin kan, jadi saya memutuskan untuk beralih ke sector industri video, film, dan fotografi. Walaupun sebenarnya saya masuk ke sector yang lebih kecil lagi, yaitu animasi. Animasi adalah film atau video yang dibuat dengan menyusun gambar-gambar yang sedikit berubah sehingga menimbulkan indikasi gerakan sehingga film terasa ‘berjalan’. Dan mengenai DKV sebagai penggerak bidang ini, saya rasa tidak juga, karena kenyataan nya tidak sebegitu banyak ‘produk intelektual’ jebolan kampus DKV yang bekerja di bidang ini. Bidang ini justru lebih banyak di huni oleh orang-orang dari perfilman dan sinematografi atau senirupa dan bukan desain; dalam hal ini saya berbicara tentang animasi film, bukan animasi dalam sebuah Motion Graphic. Perkembangan per-animasian di Indonesia sendiri masih jauh jika mau dibandingkan dengan Jepang, masalahnya baru sedikit orang Indonesia yang melek animasi, walaupun negara tetangga ada mengambil tenaga animator dari Indonesia mengingat ribetnya proses yang harus dilalui untuk membuat sebuah film animasi, bidang ini menjadi sector yang tidak terkenal. Hal ini berkait dengan kondisi ekonomi di Indonesia dan kebiasaan orang Indonesia yang kebanyakan lebih memilih industri formal, bidang-bidang perkerjaan yang hanya bekerja tanpa berkreasi, ditambah banyaknya anggapan bahwa film animasi hanya cocok untuk konsumsi anak-anak. Itulah kenapa saya bilang orang-orang Indonesia termasuk yang belum melek animasi. Animasi sebenarnya sama saja dengan film, hanya bedanya tidak menggunakan manusia. Dan justru hal itu yang membuatnya lebih menarik lagi, karena dengan animasi, kita dapat dengan sepenuh nya menuangkan apa yang ada dalam imajinasi tanpa ada batasan ‘kenyataan’. Bahkan sudah hampir semua film fiksi yang ada saat ini menggunakan teknik animasi, seperti misalnya trilogy Lord Of The Ring yang 40% bagian filmanya diganti dengan animasi, hamper semua latar belakang, lalu kumpulan Orc dan Uruk hai yang ber juta-juta banyaknya, dan adegan perang; elemen-elemen penting dalam film yang tidak mungkin dibuat secara nyata digantikan dengan animasi. Jangan jauh –jauh ke luar negeri, lihat saja di televisi, sinetron-sinetron sudah mulai banyak menggunakan efek animasi untuk makhluk-makhluk fiksi yang ada dalam sinetron tersebut, misalnya naga, ular, dan masih banyak lainnya. Masalahnya kualitas yang dipersembahkan sama sekali jauh dari bagus –itu pendapat saya. Nah dari situ pun sudah kelihatan bahwa mental praktisi kreatif Indonesia memang masih berorientasi pada industri, bagaimana untuk menyelesaikan sesuatu dan tidak kena semprot oleh atasan, kualitas sepertinya menjadi anak tiri, inilah bukti bahwa kapitalisme memang sudah menjadi jiwa DKV, kan? Akui sajalah bahwa insan kreatif Indonesia memang masih terlalu terpaku dengan ‘harga jual’ suatu karya, contoh dalam film akhir-akhir ini yang namanya film horror dan film komedi sex, dan film romantis rasanya seperti menjadi semacam patokan film Indonesia, entah memang seperti itu kadar kreatifitas bangsa Indonesia atau seperti yang saya bilang tadi, mereka hanya terlalu terpaku pada harga jual. Makanya film animasi rasanya masih terlalu jauh untuk menjadi asset industri kreatif, karena sudah prosesnya ribet, biayanya mahal, dan memakan waktu yang lama, ditambah, belom tentu laku di pasaran.

Lalu bagaimana kita menyikapi industri kreatif dalam posisi sebagai kaum intelektual, karena kita tidak dapat terhindar kabut gelap seperti yang saya sebut kan di atas. Mungkin satu-satunya cara adalah dengan tidak menjadi ‘pekerja’ sebuah perusahaan, tetapi dengan menjadi wirausaha sebuah sector industri kreatif dimana hasil dari industri kita bukan hanya dapat menghasilkan materi tetapi juga dapat berguna bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, seperti misalnya dalam arsitektur dengan dibuatnya green building atau arsitektur hijau bangunan yang dirancang ramah alam dan lingkungan. Industri kreatif merupakan paduan antara kreatifitas dan kemampuan menjalankan dan mengembangkan usaha. Ada hubungan langsung dan keterkaitan erat antara proses dan produksi kreatif dengan manajemen kerja dan modal usaha. Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi kreatif digerakkan oleh kapitalisasi kreativitas dan inovasi dalam menghasilkan produk atau jasa dengan kandungan kreatif. Ekonomi kreatif memberikan gambaran kepada kita tentang situasi bisnis yang persaingannya paling kejam. Kelas kreatif di dalam industri ini tidak pernah berpuas diri dan selalu mencari jalan untuk berinovasi kalau ingin terus bertumbuh. Tidak heran bahwa industri kreatif mempunyai ciri-ciri antara lain siklus hidup produknya yang semakin pendek dan tidak dapat diprediksi dengan akurat, variasi produk yang semakin banyak, bersifat musiman atau menurut peristiwa tertentu, produk yang mudah dibajak atau ditiru, dan tingkat persaingan yang ketat. Lulusan PT sebaiknya sudah dipersiapkan sejak berada di bangku kuliah untuk mengenal medan laga industri kreatif yang penuh dengan risiko tetapi dengan imbalan yang luar biasa. Semangat kewirausahaan sudah harus ditumbuhkan untuk mengenal dan menangkap peluang yang ada dan bukan di saat para lulusan memasuki dunia kerja2). Seperti yang McClelland katakan, suatu negara dapat menjadi makmur bila memiliki sedikitnya 2% wirausahawan dari jumlah penduduknya, sedangkan Indonesia baru memiliki 0,18%. Jadi tantangan bagi kita insan DKV untuk melangkah sedikit keluar dari kapitalisme dengan membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat luas dan tempat tinggal kita.

Sekian dulu, terima kasih mau membaca.

1) Andrie Trisaksono, Berbagai Sudut Pandang Tentang Ekonomi Kreatif dan Industri Kreatif

2) Perkembangan Industri Kreatif, Togar M. Simatupang

reduce reuse recycle repair

Posted in wander afar by ilmajesties on 2008/05/19

Reduce berarti kita mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce juga berarti mengurangi belanja barang-barang yang anda tidak “terlalu” butuhkan seperti baju baru, aksesoris tambahan atau apa pun yang intinya adalah pengurangan kebutuhan. Kurangi juga penggunaan kertas tissue dengan sapu tangan, kurangi penggunaan kertas di kantor dengan print preview sebelum mencetak agar tidak salah, baca koran online, dan lainnya. Reuse sendiri berarti pemakaian kembali seperti contohnya memberikan baju-baju bekas anda ke yatim piatu. Tapi yang paling dekat adalah memberikan baju yang kekecilan pada adik atau saudara anda, selain itu baju-baju bayi yang hanya beberapa bulan dipakai masih bagus dan bisa diberikan pada saudara yang membutuhkan. Sementara Recycle adalah mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur ulang sampah organik di rumah anda, menggunakan bekas botol plastik air minum atau apapun sebagai pot tanaman, sampai mendaur ulang kertas bekas untuk menjadi kertas kembali. Dikabarkan semboyan 3R ini sekarang menjadi 4R dengan ditambahkannya Repair, dengan maksud usaha perbaikan demi lingkungan. Contoh memperbaiki barang-barang yang rusak agar bisa kita gunakan kembali seperti sepatu jebol yang kita perbaiki karena dengan begitu kita tidak perlu membeli sepatu baru. Hal lain yang lebih besar adalah reboisasi atau perbaikan lahan kritis karena dengan ini kita bisa memiliki daerah resapan yang lebih besar dan menahan limpahan air yang bisa menyebabkan longsor. Penanaman bakau juga merupakan perbaikan lingkungan. Vulkanisir ban juga repair sehingga dapat kita reuse. Pada dasarnya inti dari semboyan ini adalah untuk mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam program pelestarian lingkungan, semboyan ini mengajak kita untuk melakukan mulai dari hal kecil yang dapat kta lakukan mulai dari skala perseorangan.

Awalnya slogan ini dibuat dan berlaku di kalangan pecinta lingkungan yang mulai merasa gerah dengan eksploitasi alam yang dilakukan akibat industrialisasi; namun sejak beberapa tahun terakhir, slogan ini menjadi slogan umum yang berlaku dan dihimbau kepada seluruh umat manusia yang ada di bumi, sebagai salah satu cara untuk mengatasi proses Global Warming. Global Warming sendiri adalah proses pemanasan global, yang berarti suhu bumi akan semakin panas, efek rumah kaca dituding sebagai penyebab utama hal ini, dan industry sebagai prmbrntuk rumah kaca yang paling signifikan, dikatakan proses industry lah yang menyebabkan rumah kaca terbentuk makin cepat. Salah satu yang dimaksud dengan ‘ulah’ industry adalah banyaknya sumber tenaga yang dibutuh kan dalam mengolah suatu produk, banyaknya bahan baku alam yang di gunakan, dan yang paling parah adalah limbah-limbah yang dihasilkan dari proses industry DAN limbah pasca produksi; misalnya saja kertas, dalam pembuatan kertas membutuhkan bahan baku pohon, untuk membuat batang-batang tadi menjadi kertas, dibutuhkan air dan listrik, guna menghasikan listrik juga dibutuhkan tenaga dari alam, entah air, angin panas matahari, dsb; dalam pembuatan dari kayu menjadi kertas yang putih bersih tentunya memakai bahan pemutih, yang nantinya akan keluar sebagai limbah produksi; lalu setelah kertas-kertas tadi digunakan untuk mencetak, misalnya majalah, setelah majalah tersebut dibaca, maka majalah akan dibuang dan masuk tempat sampah; limbah kertas ada jenis limbah yang biodegradable, hal ini berarti ketika kertas-kertas tadi dalam proses pembusukannya akan menghasilkan gas metana yang merupakan unsur terbesar yang menyebabkan global warming. Bayangkan berapa banyak sampah kertas yang dihasilkan per-hari-nya. Ditambah lagi dalam proses penebangan kayu dapat merusak keseimbangan ekosistem hutan. Ternyata dari sekedar kertas yang bagus-bagus yang dapat dengan mudah kita beli ber-rim-rim, mengandung resiko kerusakan alam yang begitu besar; saya baru menyebutkan soal kertas, belum lagi bahan-bahan lainnya, dapat dibayangkan sendiri. Dan sebenarnya proses Global Warming akan terus berlangsung, hingga mencapai Global Freezing, saat dimana periode Zaman Es terulang lagi, tidak peduli kita sudah melaksanakan inti dari slogan reduce, reuse, recycle tadi, slogan tadi hanya berfungsi untuk memperlambat proses efek rumah kaca, itupun – lagi-lagi – jika dilakukan dengan benar, dapat kita lihat di Indonesia sendiri, tempat sampah pembeda organic-nonorganik pun tidak bertahan lama. Global freezing sendiri akan mulai terbentuk apabila es-es di kutub utara ataupun selatan sudah mencair, sehingga membentuk lapisan air tawar diatas air laut, kondisi seperti ini akan mengganggu siklus perputaran air laut yang selalu berotasi dari yang bersuhu tinggi ke yang bersuhu rendah, yang berperan dalam mempertahankan iklim yang kita rasakan hari ini. Apabila perputaran suhu air laut, tidak berlangsung, maka penurunan suhu akan terjadi, tapi tentu saja saat proses ini berlangsung mungkin hanya tinggal ½ penduduk bumi sekarang yang masih mampu bertahan hidup. Dan saya mungkin juga anda, sudah ada di alam sana, dimanapun itu tergantung kepercayaan masing-masing.

Lalu, apa hubungan nya dengan desain? Kalau kita mau melihat the big picture desainer grafis termasuk orang-orang yang bertanggung jawab atas penghasilan limbah-limbah, karena lebih dari 50% media yang digunakan oleh para desainer adalah tipe media cetak, entah itu kertas, plastic, atau Styrofoam. Coba kita lihat dari media-media yang sejauh ini telah kita buat, pasti kebanyakan dalam bentuk cetak yang membutuh kan kertas atau material lainnya yang mungkin bahkan lebih sulit terdaur ulang, mulai dari buku, majalah, poster, flyer, kemasan, undangan, dll, sebut saja. Sudah berapa ratus ribu lembar yang kita –dengan sengaja- buat, yang pada akhirnya memang hanya berakhir di tempat sampah. Pernahkah kita berfikir, sepadan kah yang kita buat tadi dengan efek yang dihasilkan kemudian, pernahkah kita terpikir untuk membuat media yang lebih ramah lingkungan. Memang sebenarnya posisi desainer dalam masalah ini sangatlah dilematis; di satu sisi penggunaan kertas memang terbukti tidak efektif, tapi disisi lain, kertas adalah material yang paling mudah untuk ‘dibentuk’, ditambah lagi kertas sudah teramat akrab bagi mata, terutama para penggemar buku. Jadi apa dong yang bisa ikut kita lakukan dalam batasan profesi, seperti yang seorang teman pernah katakan sebuah wacana yang ada jangan hanya berakhir sebagai sebuah karya di lembar-lembar poster, atau karya grafis yang nantinya tidak ber-ke-tindaklanjutan ke mana-mana. Well, disinilah tingkat ke-kreatiifitasan kita sebagai seorang desainer dituntut untuk bekerja, kita dituntut untuk dapat menghasilkan sebuah karya yang dapat menyikapi permasalahan yang sedang dihadapi pada saat ini, karena sebenarnya hakekat kreatif tidak terbatas sebagus apa karya yang kita buat, tidak hanya dinilai berdasarkan nilai estetis yang terkndung di dalamnya, tetapi juga dinilai dari segi fungsional nya, dan saat sekarang ini, kita dituntut untuk mampu berfikir kreatif untuk dapat mempersembahkan dan mempertanggung jawabkan karya kita bagi bumi. Dapat dilakukan dengan banyak hal sebenarnya, dimulai dari prinsip yang paling sederhana, yaitu reduce, reuse dan recycle, dengan bepatokan pada kaidah ini, kita dapat lebih memilih material yang ramah lingkungan, baik dengan menggunakan produk-produk yang dapat dipakai ulang atau didaur ulang, dengan begitu kita telah turut mengurangi resiko lingkungan yang mungkin ditimbulkan. Atau jika kita mau lebih memeras otak dengan memikirkan media lain yang sama sekali terbebas dari material yang perlu di daur ulang, dan sebagai nya dan sebagainya. Kalau berbicara tentang lingkungan hidup, semua kembali lagi ke kesadaran pribadi atas seberapa penting hal tersebut bagi kita. Tapi paling tidak, sebagai desainer, yang notabene adalah insan kreatif mari kita coba bersama-sama berpikir ke depan, berpikir lebih terbuka, dan berpikir lebih peduli terhadap factor-faktor yang mempengaruhi kehidupan orang banyak, termasuk didalamnya mempertimbangkan ‘hasil akhir’ dari karya yang kita buat.

Tagged with: , ,