my other rumination

Posted in a bit too personal by ilmajesties on 2008/07/23

this infatuation should end before it turns into something else. I’m heartbroke before i could feel the love.

LOVE can actually

Posted in a bit too personal by ilmajesties on 2008/07/19

I had quite a long conversation today – not a very likely to be called a conversation really for i was just sitting and listen what she have to say. She told me things about marriage and the complexity of ‘in law’ relationship. Seriously, she said MANY things, which still gives me the headache for hearing things i don’t actualy care, but hey, her ’story’ gives me a glint element of shock. I just can’t stop wonder up till now, how LOVE CAN ACTUALY MAKES PEOPLE STUPID, That exact idea i already thought of, but tonight i just had myself convinced. Ah poor soul.. Being deceived by the illusion of chemical reaction they call love, to fulfill a sole purpose of breeding.

Tagged with:

Jakarta,kotaku indah dan megah

Posted in daily dally by ilmajesties on 2008/07/18

Oke.. I finally convinced myself THAT the next fewdays are gonna be boring..

Ini gada hubungan ama judul yg gw pilih si sebenernya, judul itu cuman penggalan lagu jaman dulu.. Oke, jadi kenapa gw bs yakin berapa hari kedepan bkl membosankan? The answer is: I DON’T KNOW! Padahal harusnya ada banyak yg bs gw lakukan disini, harusnya ada banyak teman lama yg bs gw temui disini. Tapi nyatanya, N O P E !! Hhhhhhh… Mungkin gw cuma udah kehilangan romansa kota jakarta, apalagi teman lama, apanya.. Hah! BS ah!
Oh well, gw masi bisa beli dvd dan nonton sepuasnya, well that’ll do, i guess, and i’ll be just fine.

the way i live

Posted in a bit too personal by ilmajesties on 2008/07/11

i live my life by pretty much taking off what i have

industri kreatif

Posted in wander afar by ilmajesties on 2008/07/03

ini adalah artikel eh bukan artikel ding, ya tulisan yang saya buat karena disuruh dosen… hmmm, saya ga ngerti bagus ato ngga, ayo berbagi pendapat

Istilah ‘Industri Kreatif’ sepertinya sedang menjadi perhatian bagi sebagian insan kreatif, nah kan, muncul dua kata kreatif dalam satu kalimat, sekarang bahkan jadi tiga. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya dimaksud dengan industri kreatif, selain tentu saja dengan melihat dari etimologi kata penyusunnya. Berdasarkan Microsoft® Encarta® Reference Library 2005,

Industry :

  1. large-scale production: organized economic activity connected with the production, manufacture, or construction of a particular product or range of products
  2. widespread activity: an activity that many people are involved in, especially one that has become excessively commercialized or standardized.

Dan karena kreatif yang digunakan dalam istilah ini termasuk jenis kata sifat, dalam bahasa inggris menjadi creativity, dan berdasarkan Microsoft® Encarta® Reference Library 2005,

Creativity :

  1. being creative: the quality of being creative
  2. imaginative ability: the ability to use the imagination to develop new and original ideas or things, especially in an artistic context

Jadi yang dapat disimpulkan dari etimologinya, Industri Kreatif menjadi memiliki arti sebagai berikut: kegiatan ekonomi suatu produk tertentu yang melibatkan proses kreatif dalam pembuatan dan pengembangannya. Tentunya itu hanyalah kesimpulan premature yang saya dapat dari seenaknya saja mengartikan kata. Tetapi ketika saya mencari tau tentang apa itu industry kreatif saya malah jadi dibingungkan oleh satu lagi istilah, ekonomi kreatif. Lalu apa bedanya ekonomi kreatif dan industri kreatif.? Banyak yang menganggap ekonomi kreatif sama dengan industri kreatif, tetapi ada penjelasan1) yang menyatakan Ekonomi kreatif adalah keseluruhan dari industri kreatif, yaitu seluruh industri yang tercakup dalam kelompok industri kreatif. Terlepas dari sama atau tidak nya ekonomi kreatif dan industri kreatif, istilah ekonomi kreatif masih relatif baru. Tidak mengherankan bila belum banyak orang yang memahaminya. John Howkins dalam The Creative Economy (2001) menemukan kehadiran ekonomi gelombang keempat ini setelah menyadari bahwa hak cipta Amerika Serikat (AS) pada 1996 mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar US$ 60,18 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Ini jauh melampaui ekspor AS lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Howkins mengusulkan 15 kategori industri yang termasuk dalam ekonomi kreatif, yaitu: periklanan, arsitektur, seni rupa, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset dan pengembangan, piranti lunak, mainan dan permainan, TV dan radio, serta permainan video.

Di Inggris sedikit berbeda. Pemerintah Inggris menggolongkan 13 sektor industri ke dalam kategori ekonomi kreatif, yang terdiri dari: periklanan, arsitektur, seni murni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, film dan video, hiburan interaktif dan permainan komputer, musik, seni pertunjukan, penerbitan, perangkat lunak dan animasi, serta TV dan radio.

Departemen Perdagangan RI mendefinisi industri kreatif berdasarkan UK DCMS Task force 1998, :


Creatives Industries as those industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content”

Sehingga Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai berikut:
“Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut “. Pemerintah berhasil memetakan 14 sektor industri yang termasuk kategori kreatif, yaitu: periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antik; kerajinan; desain; fashion; video, film, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; TV dan radio; serta riset dan pengembangan.

Sebenarnya terlepas dari segala definisi yang dengan suksesnya saya kutip dari orang-orang lain, saya menganggap industri kreatif hanyalah sebagai label, seperti halnya judul dalam sebuah film atau kategori dalam produk makanan, industri kreatif ataupun ekonomi kreatif hanyalah suatu pengelompokan dari sesuatu yang memang sudah ada. Dan ketika berbicara hubungan antara industri dan DKV, saya serta merta menganggap bahwa DKV sendiri adalah produk industri, DKV adalah sebuah lembaga intelek industri, DKV muncul karena ada tuntutan dari Industri, seperti halnya Bauhaus atau gaya desain modern lain adalah produk tuntutan industri untuk memenuhi indutri yang berkembang akibat Revolusi Industri waktu itu, jadinya menurut saya DKV memang hadir semata-mata untuk memenuhi permintaan industri, dalam artian lembaga DKV adalah praktisi industri yang ingin ber-intelek dan ya jelas saja DKV adalah produk kapitalisme, Desainer Kapitalis Visual, sebuah perancangan visual untuk kapitalisme. Bahkan menurut saya pribadi, segala hal yang berhubungan dengan embel-embel industri adalah kapitalisasi. Jadi kalau ada orang yang berkata ‘anti kapitalisme’ dalam lingkungan DKV, dia hanya belom sadar kalau dia jelas-jelas sudah menjadi bagian dari kapitalisme. Lalu saya jadi bertanya, apakah gerangan produk DKV yang bukan merupakan ‘kaki tangan’ kapitalisme? Saya rasa, selama kita hanya menjadi ‘pekerja’, selamanya kita menjadi kaki tangan kapitalisme, sekalipun itu dalam sebuah industri kreatif – kreatifitas yang di industri kan – selama kita berkreasi dalam konteks ingin menjual, maka kita memang menganut merkantilisme. Dan semangat kapitalis memang semangat menumpuk kekayaan. Dan kita bukannya tidak perlu menolak industri, melainkan tidak dapat menolak industri. Praktisi DKV sepertinya memang hanya menjadikan pengetahuan sebagai komoditas, komoditas untuk menghasilkan suatu produk yang dapat menghasilkan uang, paling tidak itu yang saya temukan pada beberapa rekan saya yang menjadi praktisi DKV di kota-kota lain, mereka hanya tertarik akan sesuatu yang dapat ‘menghasilkan’, sesuatu yang dapat diolah menjadi suatu yang dapat dinilai. Bahkan fenomena seperti ini pun sudah muncul dalam lingkungan rekan-rekan saya di kampus. Satu lagi alasan kenapa saya bilang DKV memang berjiwa kapitalis, karena di beberapa perkuliahan yang diajarkan hanya stategi bagaimana caranya agar produk laku dijual di pasaran, nah bahkan dari dunia kampus saja sudah diajarkan menjadi seorang ahli strategi kapital, padahal seharusnya kampus menjadi sebuah ajang adu idealisme.

Nah jika saya disuruh memilih untuk membahas yang mana, saya memiliki kecenderungan untuk memilih sector industri layanan komputer dan piranti lunak yang memiliki pengertian kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak & piranti keras, serta desain portal; yang berarti desain web masuk di dalam nya. Tapi karena kemarin Pak Sumbo hanya memilih tujuh dari empat belas kategori yang ada – periklanan, desain grafis, video film fotografi, permainan interaktif, penerbitan & percetakan, dan riset & revisi – yang tidak memasukkan kategori sector industri yang saya ingin kan, jadi saya memutuskan untuk beralih ke sector industri video, film, dan fotografi. Walaupun sebenarnya saya masuk ke sector yang lebih kecil lagi, yaitu animasi. Animasi adalah film atau video yang dibuat dengan menyusun gambar-gambar yang sedikit berubah sehingga menimbulkan indikasi gerakan sehingga film terasa ‘berjalan’. Dan mengenai DKV sebagai penggerak bidang ini, saya rasa tidak juga, karena kenyataan nya tidak sebegitu banyak ‘produk intelektual’ jebolan kampus DKV yang bekerja di bidang ini. Bidang ini justru lebih banyak di huni oleh orang-orang dari perfilman dan sinematografi atau senirupa dan bukan desain; dalam hal ini saya berbicara tentang animasi film, bukan animasi dalam sebuah Motion Graphic. Perkembangan per-animasian di Indonesia sendiri masih jauh jika mau dibandingkan dengan Jepang, masalahnya baru sedikit orang Indonesia yang melek animasi, walaupun negara tetangga ada mengambil tenaga animator dari Indonesia mengingat ribetnya proses yang harus dilalui untuk membuat sebuah film animasi, bidang ini menjadi sector yang tidak terkenal. Hal ini berkait dengan kondisi ekonomi di Indonesia dan kebiasaan orang Indonesia yang kebanyakan lebih memilih industri formal, bidang-bidang perkerjaan yang hanya bekerja tanpa berkreasi, ditambah banyaknya anggapan bahwa film animasi hanya cocok untuk konsumsi anak-anak. Itulah kenapa saya bilang orang-orang Indonesia termasuk yang belum melek animasi. Animasi sebenarnya sama saja dengan film, hanya bedanya tidak menggunakan manusia. Dan justru hal itu yang membuatnya lebih menarik lagi, karena dengan animasi, kita dapat dengan sepenuh nya menuangkan apa yang ada dalam imajinasi tanpa ada batasan ‘kenyataan’. Bahkan sudah hampir semua film fiksi yang ada saat ini menggunakan teknik animasi, seperti misalnya trilogy Lord Of The Ring yang 40% bagian filmanya diganti dengan animasi, hamper semua latar belakang, lalu kumpulan Orc dan Uruk hai yang ber juta-juta banyaknya, dan adegan perang; elemen-elemen penting dalam film yang tidak mungkin dibuat secara nyata digantikan dengan animasi. Jangan jauh –jauh ke luar negeri, lihat saja di televisi, sinetron-sinetron sudah mulai banyak menggunakan efek animasi untuk makhluk-makhluk fiksi yang ada dalam sinetron tersebut, misalnya naga, ular, dan masih banyak lainnya. Masalahnya kualitas yang dipersembahkan sama sekali jauh dari bagus –itu pendapat saya. Nah dari situ pun sudah kelihatan bahwa mental praktisi kreatif Indonesia memang masih berorientasi pada industri, bagaimana untuk menyelesaikan sesuatu dan tidak kena semprot oleh atasan, kualitas sepertinya menjadi anak tiri, inilah bukti bahwa kapitalisme memang sudah menjadi jiwa DKV, kan? Akui sajalah bahwa insan kreatif Indonesia memang masih terlalu terpaku dengan ‘harga jual’ suatu karya, contoh dalam film akhir-akhir ini yang namanya film horror dan film komedi sex, dan film romantis rasanya seperti menjadi semacam patokan film Indonesia, entah memang seperti itu kadar kreatifitas bangsa Indonesia atau seperti yang saya bilang tadi, mereka hanya terlalu terpaku pada harga jual. Makanya film animasi rasanya masih terlalu jauh untuk menjadi asset industri kreatif, karena sudah prosesnya ribet, biayanya mahal, dan memakan waktu yang lama, ditambah, belom tentu laku di pasaran.

Lalu bagaimana kita menyikapi industri kreatif dalam posisi sebagai kaum intelektual, karena kita tidak dapat terhindar kabut gelap seperti yang saya sebut kan di atas. Mungkin satu-satunya cara adalah dengan tidak menjadi ‘pekerja’ sebuah perusahaan, tetapi dengan menjadi wirausaha sebuah sector industri kreatif dimana hasil dari industri kita bukan hanya dapat menghasilkan materi tetapi juga dapat berguna bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, seperti misalnya dalam arsitektur dengan dibuatnya green building atau arsitektur hijau bangunan yang dirancang ramah alam dan lingkungan. Industri kreatif merupakan paduan antara kreatifitas dan kemampuan menjalankan dan mengembangkan usaha. Ada hubungan langsung dan keterkaitan erat antara proses dan produksi kreatif dengan manajemen kerja dan modal usaha. Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi kreatif digerakkan oleh kapitalisasi kreativitas dan inovasi dalam menghasilkan produk atau jasa dengan kandungan kreatif. Ekonomi kreatif memberikan gambaran kepada kita tentang situasi bisnis yang persaingannya paling kejam. Kelas kreatif di dalam industri ini tidak pernah berpuas diri dan selalu mencari jalan untuk berinovasi kalau ingin terus bertumbuh. Tidak heran bahwa industri kreatif mempunyai ciri-ciri antara lain siklus hidup produknya yang semakin pendek dan tidak dapat diprediksi dengan akurat, variasi produk yang semakin banyak, bersifat musiman atau menurut peristiwa tertentu, produk yang mudah dibajak atau ditiru, dan tingkat persaingan yang ketat. Lulusan PT sebaiknya sudah dipersiapkan sejak berada di bangku kuliah untuk mengenal medan laga industri kreatif yang penuh dengan risiko tetapi dengan imbalan yang luar biasa. Semangat kewirausahaan sudah harus ditumbuhkan untuk mengenal dan menangkap peluang yang ada dan bukan di saat para lulusan memasuki dunia kerja2). Seperti yang McClelland katakan, suatu negara dapat menjadi makmur bila memiliki sedikitnya 2% wirausahawan dari jumlah penduduknya, sedangkan Indonesia baru memiliki 0,18%. Jadi tantangan bagi kita insan DKV untuk melangkah sedikit keluar dari kapitalisme dengan membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat luas dan tempat tinggal kita.

Sekian dulu, terima kasih mau membaca.

1) Andrie Trisaksono, Berbagai Sudut Pandang Tentang Ekonomi Kreatif dan Industri Kreatif

2) Perkembangan Industri Kreatif, Togar M. Simatupang

silly

Posted in a bit too personal by ilmajesties on 2008/07/03

its stupid how this silly sentimentality mixed me and makes me hate and try to evade certain places and smell. silly silly silly